Begini Cara Menghindari Jebakan "Argo Kuda" Sopir Uber NAKAL

Penulis Dzikir Pikir | Ditayangkan 14 Aug 2016
Begini Cara Menghindari Jebakan

"Saya dicurangi sopir Uber dalam perjalanan terakhir. Tarif saya seharusnya Rp 18.000, tapi malah melambung menjadi hampir Rp 600 ribu!", Rabu 10 Agustus 2016 kemarin.

Itulah kicauan twittes penumpang Uber bernama Dolly Surya yang harus membayar Rp 595.000 untuk perjalanan dari daerah Kasablanka ke Setiabudi, Jakarta. Padahal jarak tempuh kedua titik itu cuma berkisar 4 kilometer. Jika merujuk pada tarif wajar Uber, Dolly semestinya hanya membayar sekitar Rp 18.000.

Ironisnya, kasus Dolly bukanlah yang pertama kali terjadi. Beberapa pengguna mengaku sempat ditagihkan tarif "argo kuda" alias di atas wajar, meski tak sesignifikan Dolly. Ada yang memilih diam, ada juga yang melapor ke Uber namun tak menerima respons sesuai ekspektasi.

"Gue sempat beberapa kali (mengalami kejadian yang sama)," kata Aulia Masna yang merupakan pengamat teknologi sekaligus pengguna Uber, Rabu (10/8/2016), dikutip dari kompastekno.

Baca Juga : [Heboh] Pengguna Taksi Online Dicurangi, Harusnya Bayar Rp 18ribu, Malah Tagihan Rp595 Ribu

Belajar dari pengalaman, Aulia punya tips sederhana agar penumpang terhindar dari ketidaknyamanan yang pernah ia alami dan kini dirasakan Dolly.

"Penumpang sebaiknya selalu memastikan driver sudah melakukan "end trip" di ponselnya sebelum turun dari kendaraan," ia menuturkan.

Pasalnya, fitur mengakhiri perjalanan alias end trip hanya tersedia pada aplikasi supir. Penumpang tak bisa menuntaskan perjalanan meski pada kenyataannya telah tiba di tujuan.

Celah ini bisa dimanfaatkan sopir "nakal" yang ingin meraup pendapatan besar. Mereka sengaja tak menekan "end trip" setelah menurunkan penumpang, sehingga sistem Uber mencatat jarak yang lebih jauh dari aslinya dan penumpang harus membayar lebih mahal.

Jika pun tidak berniat usil, supir tak luput dari kelupaan untuk segera menekan "end trip". Intinya, fungsi kontrol "end trip" yang terpusat pada supir bisa merugikan penumpang.

Lebih lanjut, Aulia berharap tim engineer dan designer Uber bisa memikirkan solusi untuk isu ini. Salah satu opsi dari Aulia, Uber dapat menghadirkan pula fitur "end trip" pada aplikasi penumpang agar konfirmasi perjalanan berasal dari dua pihak.

Tanggapan Uber
Sementara itu, menanggapi kasus Dolly, pihak Uber mengatakan sudah menonaktifkan sopir "nakal" yang bersangkutan. Biaya yang dibayar otomatis oleh Dolly via kartu kredit juga akan disesuaikan dengan tarif standar.

Proses penyesuaian itu memakan waktu tiga hari. Jadi, pada akhirnya Dolly tak perlu membayar tagihan Rp 595.000 tersebut.

Uber pun punya pembelaan atas sistem "end trip" yang diberlakukan. Menurut layanan ride sharing asal San Francisco tersebut, jika sopir tidak memulai atau mengakhiri perjalanan, maka Uber akan mengkaji masukan dari penumpang melalui fitur Help pada aplikasi Uber atau email ke tim support.

"Kami akan menyesuaikan biaya perjalanan pengguna (sesuai hasil kajian dari feedback pengguna)," ujar perwakilan Uber melalui pesan singkat.

Ia mengatakan masukan dan rating dari pengguna atas pengalaman yang diberikan pengemudi sangat penting untuk sistem pemantauan kualitas. Dengan begitu, sopir diharapkan lebih enggan berbuat curang.

Memang sih kita semakin dimudahkan dengan teknologi yang semakin canggih saat ini, namun sistem seperti apapun jika ditangan orang yang salah pasti ada saja celah yang dipakai mereka untuk melakukan kecurangan. Betul nggak?
SHARE ARTIKEL